FAKULTAS EKONOMI
UAS (JANUARI 20xx) - MATA KULIAH : SEMINAR MSDM
TAKE HOME EXAM

SOAL :

1.Saudara adalah pimpinan sebuah perusahaan bonafid yang memproduksi T-Shirt di Indonesia. Segmen Pasar anda adalah para “kawula muda” Indonesia. Sebagai pimpinan Saudara memiliki bawahan. Kebetulan 5 (lima) orang Tenaga inti perusahaan adalah para ahli disain T-Shirt yang produktif dan inovatif merupakan mahasiswa-mahasiswa yang sedang menyelesaikan kuliahnya di Amerika, Kanada, China, Singapura dan Perancis.  Pekerja lainnya, baik pelaksana maupun Kepala Bagian, ada di kota di mana Perusahaan berada. Buatlah bagan struktur Organisasi Perusahaan Saudara. Di mana kaos (T-Shirt) akan diproduksi? Apakah anda akan memiliki pabrik sendiri atau memanfaatkan mitra bisnis? (Jelaskan jawaban pilihan anda). Ceritakan tentang proses kerja dan komunikasi pimpinan dengan bawahannya.  Ceritakan tentang teknologi yang menunjang keberhasilan bisnis anda mulai dari perencanaan sampai pemasaran.


2.Setiap tahun  di dalam perusahaan yang Saudara pimpin selalu melakukan Survei Kepuasan Karyawan. Hasil survey tersebut antara lain diperoleh suatu angka Indeks Kepuasan Karyawan atau Employes Satisfaction Index (ESI). Jika ESI tahun 2010 ternyata lebih kecil daripada ESI Tahun 2009, padahal ESI tahun 2009 juga lebih kecil dari tahun 2008, apa yang Saudara harus lakukan pada tahun 2011? Dari sisi keuntungan Perusahaan yang Saudara pimpin sejak enam tahun berturut-turut mencatat laba dan pertumbuhan perusahaan di atas rata-rata Perusahaan pesaing.

3.Di bawah ini ada empat “Jurus Ampuh” yang biasa digunakan Pimpinan. Pada situasi dan kondisi bagaimana masing-masing “Jurus”  ini Saudara gunakan? (Empat “Jurus Ampuh” tersebut  adalah : DIRECTING, EMPOWERING, COACHING, dan SUPPORTING).

4.Kondisi Fisik dan Psikis Lingkungan Kerja dapat mempengaruhi atau menjadi pemicu terjadinya Stres. Uraikan yang dimaksud kedua kondisi tersebut. Ceritakan mengapa inter personal conflict juga dapat memicu terjadinya Stres.

5.Kontrak Psikologis adalah Kontrak informal yang tidak tertulis yang terdiri dari harapan pekerja dan atasannya mengenai hubungan kerja yang bersifat imbal-balik (Aryani, D. 2007). Jelaskan definisi ini lebih rinci.

6.Baca Artikel di bawah ini. Berikan ulasan Anda sesuai sudut pandang Manajemen SDM.

Dibalik Kisah Downsizing Southwest
Senin, 07 April 2008 07:00 WIB
Oleh: Rinella Putri
(Vibiznews – HR) – Alkisah dimulai setelah peristiwa terorisme yang mengguncang Amerika Serikat dan dunia pada 11 September 2001 dimana gedung World Trade Center ditabrak. Setelah kejadian tersebut, maskapai penerbangan mengalami masa-masa yang sulit karena masyarakat dunia mengalami ketakutan akan aksi terorisme sehingga menghindari transportasi udara. Di masa tersebut, sehingga maskapai penerbangan terpaksa untuk melakukan pemangkasan karyawan dan gaji. Namun, tidak begitu halnya dengan Southwest, yang tetap berusaha untuk melindungi pekerjaan karyawannya.

Mulai 1990, industri penerbangan mulai memperkenalkan reservasi tiket online yang dipelopori Dallas. Namun Southwest berpikir bahwa itu tidak akan terlalu populer. Kemudian pada akhir 2003, Southwest memiliki 9 call center dengan petugas customer service jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan oleh sebuah maskapai penerbangan. Padahal, saat itu reservasi tiket online menjadi sangat populer. 

Kesalahan
Salah satu kesalahan yang dilakukan oleh CEO Southwest, James Parker adalah tidak mendengarkan feedback yang diberikan oleh tim keuangannya sejak 2003 lalu, untuk memangkas call center dari sembilan menjadi tiga saja. Namun, Parker kurang bertindak proaktif karena masih berharap trend di call center akan berlanjut. Sehingga masalah semakin berlarut-larut dan tentunya call center semakin menjadi beban perusahaan.

Namun, sesungguhnya Parker bertindak seperti itu karena sisi humanis di dirinya, yang tidak tega jika harus melakukan PHK terhadap banyak karyawannya. Ia menunggu saat yang tepat hingga downsizing menjadi benar-benar perlu dilakukan.

Pendekatan Downsizing ala Southwest
Downsizing tentunya merupakan hal yang memberatkan bagi karyawan dan pula perusahaan. Namun Southwest mempunyai pendekatan downsizing yang patut untuk dicontoh. Perusahaan lain pada umumnya memberitahukan pengumuman downsizing secara mendadak sehingga karyawan dalam sekejap sudah tidak memiliki pekerjaan lagi dan karyawan juga tidak mempunyai pilihan lain. Southwest memilih pendekatan berbeda.

Southwest sebelum downsizing sudah mensosialisasikan mengenai pentingnya perubahan di perusahaan, dimana downsizing termasuk dalam agenda tersebut. Para manajer bersikap transparan mengenai kinerja perusahaan dan mengemukakan apa yang diperlukan untuk tetap menjaga daya saing. Southwest juga mengusahakan supaya bayaran pesangon sesuai dengan standar industri.

Pada akhirnya, Parker memutuskan untuk menghilangkan 6 call center menjadi hanya 3 saja. Sekitar 2/3 memutuskan untuk menerima tawaran relokasi, 700 lainnya pergi dan mengambil pesangonnya.  Dst ..................


Post a Comment

Berkomentar sesuai dengan judul blog ini yah, berbagi ilmu, berbagi kebaikan, kunjungi juga otoriv tempat jual aksesoris motor dan mobil lengkap

Lebih baru Lebih lama