Jika sesorang memilih untuk menjadi usahawan yang sukses, hal pertama yang perlu dimiliki adalah keyakinan dan keberanian untuk memulai langkah pertama dimana kita, keluar dari zona kenyamanan dan mulai mengubah diri (tranformasi) melalui serangkaian kebiasaan-kebiasaan baru menjadi seorang usahawan. Karena kita tidak bisa mengharapkan hasil yang berbeda dengan melakukan hal- hal yang sama berulang-ulang.

Untuk menjadi usahawan sukses seseorang harus berubah, harus memilki keberanian untuk mengambil langkah pertama dan senantiasa focus kepada kepada impiannya. Untuk berubah menjadi seorang usahawan yang sukses, ada beberapa kebiasaan yang perlu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:


Kebiasaan #1 : Tentukan Tujuan dan Selalu Bermimpi Sepanjang Waktu.

Sukses adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan. Setiap saat seseorang mencapai target, goal atau impiannya, maka segeralah membuat impian-impian baru yang dapat memacu diri dan memberi semangat serta antuisisme untuk mencapainya. Biasakanlah untuk memiliki target, baik harian, bulanan maupun tahunan. Apakah itu berupa peningkatan omset usaha, tingkat keuntungan, mobil idaman, rumah baru, dan sebagainya. Apapun impian atau target, ingat kata kunci SMART (specific, measurable, achieveable, Reality-based, Time frame): harus spesifik dan jelas, terukur, dapat dicapai berdasarkan realities atau kondisi saat ini dan memiliki jangka waktu tertentu.

Kebiasaan #2 : Tanpa Henti Berinovasi


Kebiasaan kedua adalah inovasi tiada henti. Seorang usahawan harus segera menerjemahkan  impian-impiannya  menjadi  inovasi  untuk  pengembangan bisnisnya. Jika impian dan tujuan hidup seseorang merupakan fondasi bangunan bisnis, inovasi dapat diibaratkan pilar-pilar yang menunjang kokohnya bisnis. Impian saja tidak cukup. Impian harus senantiasa ditunjang oleh inovasi yang tiada henti sehingga bangunan bisnis menjadi kokoh dalam badai kesulitan dan tantangan. Setiap fondasi baru yang dibuat, harus diikuti oleh pilar-pilar bangunan sebagai  kerangka  bangunan  keseluruhan.  Setiap  impian  harus  diikuti  dengan inovasi sebagai kerangka pengembangan kemudian barulah diikuti dengan produk management, customer management, cashflow management, system, dan sebagainya.

Inovasi adalah kreativitasnya yang diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat dimplementasikan dan memberikan nilai tambah atas sumberdaya yang dimiliki. Jadi untuk senantiasa dapat berinovasi memerlukan kecerdasan kreatif (creative intelligence). Carannya adalah dengan berlatih untuk senantiasa menurunkan gelombang otak sedemikian sehingga dapat mencapai conscience sebagai sumber kreativitas dan intuisi bisnis.

Kebiasaan #3 : Belajar – Berubah dan Tumbuh

Kebiasaan ketiga yang sangat penting bagi seorang usahawan adalah senantiasa belajar, belajar dan belajar. Kehidupan ini penuh dengan berbagai peluang dan kesempatan untuk  kemajuan,  penyempurnaan dan pertumbuhan.  Banyak  sekali rahasia kehidupan yang harus dipecahkan dan hal-hal baru yang diciptakan oleh umat manusia untuk memenuhi impian dan membangun kenyamanan hidup. Oleh karenanya senantiasa tersedia ruang bagi munculnya gagasan ataupun ide-ide baru, perubahan dan penyempurnaan dalam setiap aspek kehidupan manusia. Sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi senantiasa berkembang.

Bila seorang usahawan berhenti untuk belajar dan memperbaiki diri, saat itulah berarti dia mengambil keputusan untuk berhenti menjadi seorang usahawan. Belajar bagi seorang usahawan sejati adalah proses yang dilakukan seumur hidup, seperti halnya perubahan itu senantiasa terjadi sepanjang perjalanan hidupnya.

Kebiasaan #4 : Akumulasikan Asset

Tujuan akhir  menjadi seorang usahawan bukanlah menjadi pemilik usaha atau bisnis atau Investor. Tujuan akhirnya adalah mencapai kebebasan finansial serta dapat meraih impian-impian. Satu-satunya cara mencapai kebebasan finansial adalah dengan memiliki kebiasaan untuk mengakumulasikan atau menambah aset sehingga menambah pemasukan ke dalam income statement  atau neraca. Cara yang paling mudah untuk mulai memiliki kebiasaan ini adalah dengan menabung. Karena yang penting bukan berapa jumlah yang ditabung, melainkan kesadaran bahwa setiap bulan seseorang menjadi lebih kaya. Balance sheet pribadi maupun usaha yang dimiliki harus senantiasa menunjukkan penambahan aset. Inilah satu- satunya indikator bahwa seseorang telah mengakumulasi kapital yang dimiliki.

Kebiasaan #5 : Gunakan Kekuatan Pengungkit Untuk Membangun Bisnis

Seorang usahawan yang cerdas harus mampu menggunakan tenaga dan waktu orang lain untuk mencapai impiannya. Sebagai ilustrasi, tahukah anda setiap beberapa jam, restoran waralaba hamburger MacDonalds sehingga membangun membuka satu gerai baru di seluruh dunia. Bagaimana Mereka dapat melakukan hal  tersebut.  Bayangkan  betapa  efisien  dan  canggihnya  para  eksekutif  dan karyawan MacDonalds sehingga mampu membangun satu outlet restoran setiap beberapa jam saja. Inilah contoh kekuatan dari leverage (pengungkit).

Kebiasaan #6: Kembangkan Orang-orang Pengikut/bawahan

Untuk dapat menggunakan waktu dan tenaga orang lain mengelola dan mengembangkan bisnis, seorang usahawan harus memiliki kemampuan melalui pengembangan orang-orang disekeliling kita. Seorang pemimpin yang baik tidak diukur  dari  berapa  banyak  pengikutnya  atau  pegawainya,  tetapi  dari  kualitas orang-orang yang mengikutinya serta berapa banyak pemimpin-pemimpin baru disekelilingnya.

Biasanya tidak lebih dari 20% dari total orang-orang yang berpotensi untuk dikembangkan  terus.  Dari  20%  orang-orang  inilah  memilih  sekitar  20%  dari mereka untuk dikembangkan menjadi pemimpin-pemimpin yang kelak akan mengembangkan dan menggantikannya. Inilah proses yang disebut dengan Pengembangan, yang tidak sekedar meningkatkan ketrampilan tetapi lebih penting adalah  mengembangkan  karakter  dan kemampuan  intra  maupun  inter-personal sebagai pemimpin bisnis. Jadi seorang usahawan yang cerdas harus senantiasa mengembangkan orang-orang disekelilingnya agar pada gilirannya dapat menggunakan konsep pengungkit untuk mengembangkan bisnisnya

Kebiasaan #7: Kembangkan Sistem Bisnis

Sebuah usaha  baru dapat dikatakan terbangun ketika sudah dapat  membangun sistem bisnis yang efektif dan efisien. Seperti halnya tubuh manusia adalah sebuah 


sistem yang terdiri atas beberapa sub-sistem, perusahaan adalah sebuah sistem juga yang terdiri dari beberapa sub-sistem. Jika tubuh manusia terdiri atas antara lain: sistem aliran darah, sistem pernapasan, sistem pencernaan, dan sebagainya, perusahaan juga terdiri atas sejumlah sistem antara lain: sistem operasional harian, sistem pengembangan produk, systeTabel 2.2m inventori, sistem administrasi penjualan, sistem pengelolaan piutang, sistem pemasaran, dan sebagainya.

Sebagai entrepreneur atau pemimpin bisnis, salah satu tugas utamanya adalah menyiapkan dan menyempurnakan sistem-sistem tersebut sehingga pada akhirnya organisasi tidak tergantung pada seorang semata, tetapi sistem yang dijalankan oleh sumber daya manusia yang berkualitas.

Kebiasaan #8: Bangun Jaringan & Aliansi

Keberhasilan  menjadi usahawan  sejati  sangatlah  tergantung  pada  jaringan  dan mengembangkan aliansi dan kemitraan bisnis merupakan kebiasaan yang harus senantiasa dikembangkan. Sekecil apa pun jaringan yang dimiliki sekarang, mulailah membangunnya serta merawat dan memeliharanya. Seseorang tidak pernah tahu kapan membutuhkan jaringan tersebut, misalnya apa yang paling penting untuk memulai usaha dari nol adalah karena ada yang jaringan yang cukup kuat baik dari segi peluang bisnis, modal, maupun akses pada pemerintah.

Kebiasaan #9: Menjadi Investor yang Baik

Salah satu  kekuatan usahawan  yang  cerdas  dan  sukses adalah  kemampuannya dalam mengelola portofolio asetnya sehingga senantiasa berkembang dan bertambah  banyak.  Kemampuan  mengelola  portofolio  aset  adalah  kemampuan yang terbentuk karena kebiasaan dan pengalaman yang panjang. Oleh karena itu, harus memiliki kebiasaan untuk selalu belajar dan melakukan investasi bisnis yang tepat dalam pengelolaan portofolio asetnya. Menjadi usahawan yang sukses bukanlah sekedar memilki usaha sendiri namun juga mampu mengelola portfolio asset dan mengembangkan bisnis secara vertical dan horizontal.

Kebiasaan #10: Kekuatan Beramal: Memberi dan Bersyukur

Kebiasaan kesepuluh seorang usahawan sejati adalah beramal dan mengucap syukur.  Tuhan  telah  menciptakan alam  semesta  dengan  segala  kelimpahannya untuk disyukuri dan dinikmati. Seseorang diberikan kuasa untuk menjadi co- creator,  untuk  menciptakan  realitas  kehidupan  yang  dinginkan.  Inilah  yang menjadi rahasia mengapa orang-orang sukses bisnisnya, Bill Gates, John Rockefelller,  Alfred  Nobel,  dan  sebagainya  adalah  philanthropist  (dermawan) sejati. Mereka memahami benar makna memberi dan mengucap syukur (charity and gratitude).

Sifat dan karakteristik wirausaha dan kewirausahaan para usaha mikro dan kecil dapat dicerminkan dari contoh contoh kasus kisah para pengusaha mikro yang menjadi usaha kecil dan bahkan menjadi usaha menengah dengan latar pendidikan yang berbeda, sebagai berikut; 

1. Pedagang Tanaman Hias

Sebagai kasus kecil adalah Syahbudin seorang pedagang tanaman hias (hortikultura) di jalan A Yani Kota Bogor dengan membentuk kelompok pedagang dengan jumlah kelompok kecil beranggota 6 orang bernama Kelompok Kenari. Dia  sudah  dapat  melayani pemesan/pelanggan  diluar  Jawa  (Kendari,  Manado, Banjarmasin), tanaman yang diperdagangan adalah Euphorbia Sp yang dikirim langsung  melalui paket  jasa transportasi udara ke Bandar  Sukarno  Hatta. 

Pak Syahbudin yang sebelumnya magang pada pedagang tanaman hias dan dapat bimbingan kakaknya yang juga telah menjadi pedagang tanaman hias yang telah berhasil  mengembangkan  usaha  tanaman  hias  kecil  yang  lebih  besar.  Pak Syabuddin berpendidikan dasar Sanawiyah, pernah jadi TKI di Arab Saudi sebagai sopir, Selain pedagang juga menampung tanaman hias dari petani, dia seorang yang tekun dengan mengembangkan tanaman yang khas yang mengalami mutasi alami, khususnya warna daun dan batang yang harganya cukup mahal. 

Berbeda dengan  pengusaha  mikro  lainnya  dia  telah  melakukan catatan keuangan  yang dilakukan oleh istrinya, dengan demikian administrasi keuangan dalam bentuk catatan keluar dan masuk transaksi harian, tetapi tentu belum dapat  menyusun neraca  usahanya.  Kunci keberhasilannya  adalah  ketekunan,  kerja  keras  dan membangun relasi. (Hasil wawancara dan pengamatan penulis)

2. Pengusaha Bodir plus dengan Sistem Komputerisasi

Pengusaha bordir berlokasi di Atrium Senen Jakarta Pusat ini yang dirintis oleh Doni M Yosep mulai tahun 1998, dengan modal Rp. 20 juta, memulai usaha bordir dan pelengkapannya. Memilih usaha ini karena bagi dia bukan usaha baru, yang dimulai waktu sekolah untuk membuat kaos untuk tim basket sekolahnya, dan waktu bekerja di Garuda berjualan kaos dan jaket dan juga menyuplai barang ke koperasinya,  untuk  membiayai kuliah di STEI YAI. Setelah bekerja selama 7 tahun di Garuda sebagai administarasi dan keuangan, dia behenti dan akan melanjutkan studi ke Amerika Serikat dan menyelesaikan S2 di Jurusan International Business, Lincoln University, San Frasisco. 

Harapannya setelah selesai studi S2 dapat mudah mencari pekerjaan. Kenyatan tidak sesuai dengan harapan, dan kemudian dia  bekerja di Perusahaan Asuransi  yang besar, tetapi hanya bertahan 3 bulan, berhenti dengan alasan tidak banyak tantangan. Kemudian kembali ke usaha menjadi makelar untuk kaos dan topi, dalam ruangan garasi yang dinpinjami oleh mertuanya sebagai kantor usahanya.

Asal mula membuka usaha bordir adalah saat jalan jalan dimana ada usaha bordir secara manual sangat laris. Setelah usahanya sebagai makelar berjalan cukup baik, maka tahun 1998 dengan modal Rp.20 juta membuka usaha bordir manual dengan merekrut karyawan ahli bordir untuk membantu usahanya. Hanya dalam waktu 2 tahun dapat membuka 12 outlet di Jakarta. Usaha itu berkembang karena pada waktu itu belum banyak yang menggeluti usaha tersebut. Usahnya kemudian berkembang ke jenis bordir dengan komputerisasi. 

Dia bermimpi bahwa tahun 2000 usaha bordir akan berkembang. Untuk menggunakan komputerisasi dia melakukan studi banding ke Jepang untuk mempelajari segala hal mengenai bordir dengan sistem komputerisasi. Pulang dari studi banding di Jepang dia meninggalkan  usaha  bordir  manual  dan  mulai  menggunakan  konsep komputerisasi,  disamping  menggunakan  konsep  komputerisasi  juga  diperlukan satu perangkat mesin bordir buatan Korea. Untuk memulai bordir dengan sistem komputerisasi dan mesin bordir dia menjaul rumahnya seharga Rp. 70 juta untuk menambah modal usahanya. 

Keistimewan produk. Produk bordir manual hanya topi, tetapi bordir komputerisasi banyak produk produk yang ditawarkan seperti kaos, topi, jaket, kemeja dll. Keunggulannya sesuai dengan selera konsumen, jahitan yang dijamin rapih dan dalam waktu yang cepat misalnya kaos hanya 5 menit.

Teknik Pemasaran. Usaha ini lebih ditukan kekelompok segemen pasar level menengah ke atas. Promosi dilakukannya lewat iklan baik media cetak dan elektronik. Dalam strategi pemasaran dari 12 outlet, sekarang  hanya tinggal 6 outlet yang ada di Atrium Senen, Blok M, ITC Kuningan, Mall Ambasador, Mega Mall Pluit, Mall Cinere. sedangkan outlet yang tidak stratejik ditutup.Bordir plus ini jaket dengan harga Rp 25.-75.000; kaos Rp.40.– 80.000; tas ransel dan tas pinggang Rp.50 – 100.000; Bahan baku ;produksi dari Tanah Abang., omzet per bulan telah mencapai Rp. 240 juta.

Membuka Business Opportunity (BO)Tahun 2004. Dony memberanikan diri untuk membuka BO, bukan waralaba, karena BO tidak dikenakan franchise fee maupun royalty fee dan BO lebih sederhana dengan membayar Rp 200 juta, maka para mitra usaha atau pengusaha memperoleh sat set komputer, scanner, satu set mesin bordir  buatan  Korea,  training  satu  bulan,  promosis  melalui  banner,  spanduk, brosur, iklan di surat kabar lokal, dan radio  lokal dan tentu saja sewa tempat usaha.yang diberikan, dan dicarikan lokasinya oleh Bordir plus. Saat ini telah ada 5 BO anatara lain; Mall Ratu Indah, Maakassar- Sulawesi Selatan,Depok Town Squere, Jakarta City Center, Serpong Twon Center dan ITC Cempaka Mas.

Dengan membuka BO di berkeinginan orang lain juga berkembang dengan usaha ini, tidak hanya dia saja yang menikmati juga orang lain dapat menikmatinya.

Contoh ini memberikan gambaran tentang kesuksesan pengusaha dari usaha mikro menjadi usaha kecil bahkan berpotensi menjadi usaha menengah, dimana kewirausahaan yang harus dipertajam dengan mengembangkan potensi diri berupa bakat atau naluri diri yang berjiwa bisnis, berani menaggung risiko, mempunyai visi kedepan, ilmu dan teknologi, beramal bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga orang lain, memilik strateji usaha dan kepemimpinan untuk mengatasi kendala SDM dengan pendekatan budaya dan kekeluargaan.

3 Usaha T-shirt

Tahun 1980 Wydiarto membuka usaha pembuatan T-Shirt dengan nama C.—59, nama dari alamat rumahnya, yang memulai usahanya dengan modal hasil penjualan kado perkawinannya. Hasil penjualannya ini digunakan sebagai modal membeli obras dan mesin jahit. Dalam mengelola bisnisnya dia mengutamakan kualitas, kalau kualitas buruk sulit mengembangkanbisinsnya. Pada awal usaha dibantu tiga orang karyawan. Selain mencari order, ia ikut mendesain, memilih bahan, memotong, menjahit, menyablon sampai finishing. 

Order banyak dari sekolah dan instansi. Karena banyak pesanan dari Jakarta lalu membuka cabang di di Jln Mendawai pada tahun 1982. Dalam mengembangkan bisnisnya dilakukan secara alami: ”mengerjakan apa yang bisa dikerjakan, tumbuh karena dibutuhkan dan tidak spekulatif”. Usahanya meningkat pada saat mendapat pesanan dari Nichimen – perusahaan Jepang yang bergerak dalam bidang insektisida. Peningkatan omzet meningkat setelah ikut serta dalam kegiatan “Air Show” tahun 1986 di Jakarta. Lewat tawaran modal dari Bank Niaga Widiarto membangun pabrik T-Shirt di kawasan Cigadung, Bandung. 

Nama perusahaan diganti menjadi PT Caladi Lima Sembilan. Sejak itu mulai mengikutsertakan desainer ahli ataupun otodidak untuk bergabung dengan usahanya. Lokasi usaha tidak lagi di rumah kecil, Widyarto membeli rumah rumah disekelilingnya, sebagian dijadikan kantor dan showroom produknya. Lalu membuka showroom di di beberapa kota di balikpapan, Bali, Yogyakarta, Makassar, Padang, Lampung, Medan dan Malang. Bisnis kaosnya memasuki Ramayana Departemen Store.

Kiat  bisnisnya  dalam  menggapai  sukses  adalah  ”berikan  yang  terbaik”. Agar bisnis T-shirt-nya berkembang ia memilih tema yang disesuaikan dengan perkembangan jaman lewat triknya itu banyak digemari konsumen. Dalam kaitan ini sesuai dengan jenis usahanya riset dan rancangan sangat berpengaruh terhadap kekuatan produk t-shirtnya. insustri t-shirt tergolong cepat trend dan selalu berubah rubah gaya, dan diwujudkan dengan tema : Beda Gaya: Beda Semua. 

Oleh karena itu penggalian ide atau gagasan tidak pernah berakhir, untuk penggalian ide karyawan mendapat kesempatan jalan jalan untuk  mencari ide segar.  Oleh karena  itu  desianernya  boleh tidak mauk kantor dengan syarat asal besknya ketika masuk kerja sudah mempunya ide segar.

Berkat  usahanya  bisnis  Caladi  Lima  Sembilan  merambah  penualannya hingga ke Jerman, Slovakia, dan Ceko. Juga terjadi rstruktirisasi menjadi beberapa divisi dan ; pabriknya diperluas menjadi satu hektar. Dalam mengelola SDM: mengutamakan “people” sebagai asset.5

Dari kasus jenis usaha ini inovasi dan kreaktivitas menjadi unsur utama dalam pengembangan usaha dengan meningkatkan partisipasi karyawan sebagai aset untuk mengembang inovasi dan kreaktivitas suatu produk yang bermutu sebagai ciri ciri kewirausahaan.

4. Usaha Peningkatan Mutu Tanaman dengan teknik Kultur Jaringan (Tissue Culture)

Sebagai pemilik sekaligus juga sebagai manajer usaha “Esha Flora” dimulai dari hobi memelihara tanaman hias. Hal ini ada kaitannya karena pemilik usaha mikro yang berlatar belakang pendidikan sarjana juruan biologi IPB. Berangkat dari hobi ini kemudian memperbanyak sendiri dengan berbekal ilmu  yang dimiliki,  dan membuka  kios tanaman  hias dan  jenis  tanaman  langka  lainnya dalam dengan menyewa lahan untuk berjualan tanaman hias.Lokasikios berada dalam komplek perumahan disamping toko Swalayan TOPAS yang dimulai tahun 1995. Maka mulailah mencoba menjual tanaman hias. Keinginan membuka kios atau berjalan tanaman hias juga ada kaitannya untuk menambah penghasilan keluarga.

Karena sering kehabisan bahan tanaman, maka timbul gagasan untuk memperbanyak tanaman yang tidak kovensional, yaitu melalui perbanyakan tanaman dengan sistem kultur jaringan. Sebagai tenaga profesional dalam bidang biologi, khususnya dalam teknik kultur jaringan yang diperoleh dari pendidikan tinggi dan juga sebagai pengajar kultur jaringan di “almamaternya”, maka timbul gagasan membuat kultur jaringan yang “merakyat” dengan membuat laboratorium kultur  jaringan  sederhana  atau  skala  rumah  tangga  yang  dapat  dikelola  oleh seorang “pengusaha kecil/mikro”. 

Selain itu berkeinginan agar agribisnis dapat menerapkan teknologi dengan penggunaaan bibit unggul. Bibit unggul bermutu merupakan kunci dalam meningkatkan produktivitas hasil pertanian (untuk semua jenis tanaman perkebunan, kehutanan dan tanaman pangan serta hortikultura disamping upaya lainnya. Dengan motivasi penerapan ilmu dan teknologi dalam usaha agribisnis, khususnya penggunaan bibit unggul yang dapat dihasilkan dalam jumlah  banyak  dalam  waktu  singkat  dengan  bibit  yang  bermutu.  

Misalnya tanaman tanaman jati, murbei, atau ubi jalar, dan yang sudah banyak dilakukan adalah jenis jenis tanaman anggrek, aglonema. Untuk tanaman ubi jalar dengan kerja sama dengan PT Galih Estetika di Kab. Kuningan Jawa Barat. Perusahaan ini melakukan kemitraan dengan petani dimana bibit disediakan Perusahaan Mitra dan petani  menjual  produk  ubi  jalar  untuk  diolah  menjadi  tepung  sebagai  bahan eksport ke Jepang.

Yang menjadi manajer dan sekaligus menjadi ”pencatat kegiatan admisntrasi keuangan usaha  mikro  ini” adalah  istrinya  yang  juga  berpendidikan pertanian jurusan biologi IPB. Selama menjalani usaha tersebut banyak suka dan duka yang mulai dari perasaan yang dialaminya, tidak percaya diri, rendah diri, malu karena merasa turun derajatnya berjualan tanaman dipinggir jalan. Contoh peristiwa yang cukup “manis” untuk dikenangnya,  ketika dia sedang  memperbanyak tanaman sendiri hanya dengan menggunakan kaos yang sudah kumal dan celana hitam longgar  (celana  silat)  serta  rambut  gondrong  dan tangan  kotor  penuh kotoran hewan datanglah Ibu-ibu kaya dengan mobil mewahnya, untuk membeli tanaman hias yang berukuran sedang.  

Kemudian ibu tersebut berkata : “ Mang, tolong angkat ke mobil ya, hati-hati jangan sampai jatuh. “ Dari sikapnya terlihat bahwa dia tidak  memandang  penjual tanaman dan tidak  mau dekat-dekat  karena bau kotoran hewan. Maka dengan sekuat tenaga dia menggotong pot yang cukup berat tersebut ke dalam mobilnya. “Mang, hati-hati mobilnya kotor, kasih Koran dulu dong”. “Oh iya Ibu mohon maaf”. Maka cepat-cepat dia mencari koran dan mengalasinya untuk meletakkan pot tersebut di dalam mobilnya. Dari peristiwa tersebut betapa harga diri dia menjadi jatuh. Betapa tidak, karena yang biasanya berdiri didepan kelas, menghadapi sekian puluh mahasiswa yang dengan seksama mendengarkan apa yang disampaikan dalam kuliah, dan dihargai, dihormati. 

Tetapi di kios tanaman merasa kurang dihargai karena ”penampilan sebagai kuli”.Pengalaman tersebut memicu untuk tetap tegar, tetap ingin berprestasi, sebagai tempaan mental untuk menjadi seorang interpreneur - seorang wirausaha..

Ada kendala lain adalah bahwa modal yang terbatas, dimana untuk ikit pameran saja hauis minta dari keluarga/famili. Untuk keperluan hidup keluarga untuk anak sekolah dan keperluan lainnya hanya mengandalkan penjualan tanaman, sehingga stok  tanaman  habis  dan  tidak  dapat  lagi  membeli dari petani atau  pengusaha anggrak atau tanaman hias lainya dan benar-benar mengandalkan dari hasil jualan tanaman hias, karena gaji tidak cukup sebagai dosen muda. Hal ini berdampak pada terkurasnya modal tanaman. 

Tapi untuk mengimbangi ini, merka suami istri berusaha menambahkan modal saat ada hasil penjualan dan memperbanyak tanaman dengan tekun. Walaupun sangat lambat tetapi kemudian mereka mampu membayar seorang pekerja untuk  membantu menjaga kios dan memperbanyak tanaman. Sehingga waktu kami tidak terlalu tersita dikios tanaman tersebut, dan dapat mengalokasikan waktu ke hal-hal yang lebih bermanfaat.

Karena memiliki profesi kultur jaringan (pengajar kultur jaringan), maka dia ingin membuka laboratorium kultur jaringan di rumah. Maka mulailah mereka mengumpulkan  alat-alat  kultur  jaringan  yang  sederhana  dan  secara  bertahap. Untuk laboratorium kultur jaringan ada alat yang cukup mahal yaitu ”Laminar Air Flow”, alat yang digunakan untuk menanam tanaman ke dalam botol. Harganya 7,5  juta. Kemudian timbul inovasi dan kreativitas dengan membuat suatu alat dengan fungsi yang sama tetapi hanya dengan menggunakan kaca saja yang biasa disebut “Enkas”. Biaya untuk membuat Enkas tersebut hanya Rp. 400.000 rupiah.

Kemudian kami juga terpaksa mengutang untuk membeli Autoclave, yaitu alat yang berfungsi untuk sterilisasi. Setelah semua alat dan bahan sudah terkumpul lengkap, mulailah mereka suami istri menjalankan laboratorium kultur jaringan yang sangat sederhana tersebut.

Secara bertahap dilakukan strukturisasi rumah tempat tinggalnya di Jln Kemuning VI blok M No 9 Taman Cimangu Bogor Tlp 0251 344 879 menjadi laboratorium sederhana dan ruang kelas pelatihan kultur jaringan dengan kapasitas maksimal 10 orang peserta. Rumah BPR tipe 21 ini juga ditingkatkan dimana lantai dua dipakai untuk koleksi tanaman hias yang cukup mahal untuk menhindari pencurian. Sedangkan untuk tempat tinggal dengan menyewa rumah disebelahnya.

Untuk mengembangkan laboratorium kultur jaringan dan pelatihan kultur jaringan telah memperoleh dana tambahan dari “Program Kemitraan Bina Lingkungan- PKBL” dari PT Telkom, atas jasa hubungan baik dengan seorang pensiunan Telkom sebagai penghubung sebagai pinjaman lunak bagi UKM. Pinjaman sebesar Rp. 30 juta tersebut digunakan untuk menambah modal operaasional-kerja kios tanaman  dan  investasi untuk  meningkatkan  fasilitas  laboratorium  skala  rumah tangga. Dengan tambahan modal operasional termasuk untuk promosi pelatihan kultur jaringan dan investasi laboratorium untuk fasilitas pelatihan kultur jaringan. 

Melalui para  peserta  pelatihan  ini usahanya  telah  merambah  dengan pengembangan produk hormone tumbuhan dan kios tanaman hias yang cukup mahal. Produk hormon pertumbuhan ini untuk merangsang pertumbuhan akar dan tunas   dalam   rangka   perbanyakan   tunas   tanaman   hias,   dan   perangsang pembungaan. Dengan demikian telah terjadi perluasan usaha penjualan tanaman hias, pelatihan kultur jaringan, hormon pertumbuhan dan memberikan jasa konsultasi untuk membangun kultur jaringan untuk skala rumah tangga. Menjadi konsultan pembangunan kultur jaringan dilakukan juga sebagai makelar alat dan bahan kimia yang diperlukan dalam membanguan kultur jaringan.

Dalam mengembangkan usahanya dia menjalin jaringan pemasaran dengan pedagang mikro tanaman hias, dan importir tanaman hias dari Thailand, dan pengusaha pedagang tanaman hias di seluruh mulai dari Sumatera, Kalimantan dan bahkan Papua dengan pengiriman tanaman hias yang diminta oleh para pedagang tanaman sesuai permintaan dan tanaman hias yang menjadi trend saat ini di daerahnya.. Laboratorium ini digunakan untuk praktek pelatihan kultur jaringan juga perbanyakan tanaman yang langka dengan melakukan uji-coba dengan menggunakan  berbagai  media  yang  dirakit  sendiri.  Laboratorium  ini  sebagai tempat pelatihan ketrampilan bagi para lulusan yang masih menunggu bekerja yang permanen, banyak tenaga baik lulusan SMU yang semula bekerja tenaga teknis  laboratorium dan D2/D3 serta S1 yang ikut  magang dan  yang direkrut menjadi tenaga trampil yang membangun laboratoitum bidang pertanian.(Hasil wawancara dan pengamatan penulis)

Contoh kasus diatas bahwa untuk menjadi wirausaha dan mengembangkan kewirausahaan dapai dimulai dari hobi, ingin mengamalkan ilmu, percaya diri, kerja keras, ulet, pantang menyerah yang disertai kreativitas dan inovasi yang dilandasi  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi,  jalinan  kerjasama dan pentingnya strateji pemasaran dan promosi.

Proses penciptaan realitas kehidupan diawali dengan keyakinan. Cara menunjukan keyakinan atau iman tersebut adalah dengan mengucap syukur atas kelimpahan berkat yang diberikan Tuhan. Beramal (charity) adalah pengungkapan syukur (gratitude) kita atas anugrah kelimpahan dari Tuhan, sehingga bawah sadar kita berpikir bahwa kita berkecukupan bahkan berkelimpahan (prosperity consciousness). Pesan inilah yang ditangkap alam pikiran bawah sadar sesorang atau kita semua akan mencari jalan untuk mewujudkan kehidupan berkelimpahan itu bagi kita.

Post a Comment

Berkomentar sesuai dengan judul blog ini yah, berbagi ilmu, berbagi kebaikan, kunjungi juga otoriv tempat jual aksesoris motor dan mobil lengkap

Lebih baru Lebih lama