Teknologi terdiri atas metode, proses, dan alat yang ditemukan manusia untuk memanipulasi lingkungan mereka. Sejauh yang tidak pernah direalisasikan dalam sejarah, bisnis kontemporer secara terus menerus dan radikal diubah oleh evolusi teknologi baru yang cepat yang memunculkan persoalan etis baru bagi bisnis.
Bukan pertama kalinya bahwa teknologi baru mempunyai dampak revolusioner terhadap bisnis dan masyarakat. Beberapa ribu tahun yang lalu, selama masa yang disebut Revolusi Agrikultur, manusia mengembangkan teknologi pertanian yang memungkinkan mereka berhenti mengandalkan perburuan dan keuntungan berburu. Perkembangan Moral dan Penalaran Moral Kami telah mengatakan bahwa etika adalah studi tentang moralitas dan bahwa seseorang mulai menjalakan etika ketika dia mulai melihat standar moral yang telah diserap dari keluarga, gereja, teman, dan masyarakat dan mulai bertanya apakah standar itu rasional atau tidak rasional dan apakah standar itu menyatakan situasi dan isu-isu.


Perkembangan Moral Kami kadangkala mengasumsikan bahwa nilai seseoarang dibentuk selama masa kanak-kanak dan tidak berubah itu. Kenyataannya, sebagian besar riset psikologi, juga pengalaman moral seseoarang, menunjukkan bahwa ketika seseoarang dewasa, mereka mengubah nilai mereka dengan cara yang sangat mendalam dan mendasar. Seperti kemampuan fisik orang, kemampuan emosional dan kognitif berkembang sejalan dengan usia mereka, demikian juga kemampuan mereka untuk menghadapiisu moral yang berkembang sepanjang hidup mereka. seseorang kurang lebih berkembang seperti itu. Psikolog Lawrence Kohlberg, misalnya, yang mempelopori riset dalam bidang ini menyimpulkan berdasarkan riset selama lebih dari 20 tahun bahwa ada enam tingkatan yang teridentifikasi dalam perkembangan kemampuan moralseseoarang untuk berhadapan dengan isu-isu moral.

Urutan enam tahapan dapat disimpulkan sebagai berikut:
Level Satu: Tahap Prakonvensional
  Tahap Satu: Orientasi Hukuman dan Ketaatan 
  Tahap Dua: Orientasi Instrumen dan Relativitas
 Level Dua: Tahap Konvensional
  Tahap Tiga: Orientasi Kesesuaiaan Interpersonal
  Tahap Empat: Orientasi Hukum dan Keteraturan
 Level Tiga: Tahap Postkonvensional, Otonom, atau Berprinsip
  Tahap Lima: Orientasi Kontrak Sosial
  Tahap Enam : Orientasi Prinsip  Etis Universal
Bahasan ini berhubungan dengan : Moral, Etika dan Bisnis

Penalaran Moral

Penalaran moral mengacu pada proses penalaran di mana perilaku, institusi, atau kebijakan dinilai sesuai atau melangggar standar moral. Penalaran moral selalu melibatkan dua komponen mendasar: (a) pemahaman yang telah dituntut, dilarang, dinilai atau disalahkan oleh standar moral yang masuk akal; dan (b) bukti atau informasi yang menunjukkan bahwa orang, kebijakan, isntitusi, atau perilaku tertentu mempunyai cirri-ciristandar moral yang menuntut, melarang, menilai atau menyalahkan. Secara skematis, penalaran moral atau etis biasanyamempunyai semacam struktur yang ditunjukkan oleh Gambar 
Penalaran Moral

Menganalisis Penalaran Moral 

Ada beragam kriteria yang digunakan para ahli etika untuk mengevaluasi kelayakan penalaran moral. Pertama dan terutama, penalaran moral harus logis. Analisis penalaran moral menuntut logika argumen yang digunakan untuk menyusun penilaian moral telah diteliti secara ketat, asumsi moral dan faktual yang tidak dikatakan telah dibuat secara eksplisit, dan baik asumsi maupun premis-premisnya diperlihatkan dan terbuka terhadap kritik.
Referensi lainnya yang menarik : Signifikansi Program Coorporate Social Responsibility
Kedua, bukti factual yang dikutip untuk mendukung penilaian harus akurat, relevan, dan lengkap. Misalnya, ilustrasi penalaran moral mengutip sejumlah statistik (― Sementara orang Negro menyumbangkan 11% tenaga kerja negara, mereka mengisi 6% pekerjaan professional dan teknis Negara 3%...‖) dan hubungan ( orang non kulit putihmenyumbangkan tenaga kerja murah yang memungkinkan orang lain hidup berkecukupan) yang tampaknya ada di Amerika. 
Ketiga, standar moral yang melibatkan penalaran moral seseorang harus konsisten. Standar-standar itu harus konsisten satu sama lain dan dengan standar dan keyakinan lain yang diyakini seseorang. Inkonsistensi antar standar moral seseorang dapat disingkap dan dikoreksi dengan mencermati situasi di mana standar moral tersebut menghadapi hal-hal yang bertentangan. 

Andaikan saya yakin bahwa (1) adalah salah tidak menaati majikan yang secara kontrak sudah saya setujui untuk ditaati, dan saya yakin bahwa (2) adalah salah membantu seseorang yang membahayakan keselamatan orang-orang tidak berdosa. 

Post a Comment

Berkomentar sesuai dengan judul blog ini yah, berbagi ilmu, berbagi kebaikan, kunjungi juga otoriv tempat jual aksesoris motor dan mobil lengkap

Lebih baru Lebih lama