Keseimbangan

  Analisa keseimbangan adalah analisa penyesuaian harga menuju kesepakatan antara keputusan penjual dalam penawaran dan pembeli dalam permintaan.
D(p* ) = S (p* ) 
    Mengapa perlu mengetahui kondisi keseimbangan?
  Karena di luar kondisi keseimbangan, baik konsumen maupun produsen menganggap bahwa harga yang diterima bukanlah merupakan pilihan terbaik dan berusaha mengubahnya untuk mencapai nilai optimal. Artinya, di luar harga keseimbangan, jumlah yang bersedia ditawarkan penjual (supply) tidak akan sama dengan jumlah yang diminta (demand)

Ketidakseimbangan

  Misal harga pasar lebih rendah dari p*, maka jumlah permintaan naik sedangkan penawaran turun. Artinya terdapat kelebihan permintaan (excess demand). Penjual menyadari bahwa harga dapat ditingkatkan dan pembeli yang tidak dapat memperoleh barang sebelumnya bersedia membayar lebih untuk mendapatkannya. Penjual akan terus meningkatkan harga sampai tidak ada lagi pembeli yang bersedia membayarnya.

  Sebaliknya, jika harga pasar lebih tinggi dari p*, maka jumlah permintaan turun sedangkan penawaran naik. Artinya terdapat kelebihan penawaran (excess supply). Pembeli menyadari bahwa harga dapat diturunkan dan penjual yang tidak dapat menjual dagangannya sebelumnya bersedia menerima harga yang lebih rendah. Pembeli akan terus menawar penurunan harga sampai tidak ada lagi penjual yang bersedia menerimanya.

Dua kasus khusus


Invers Supply 

Sama halnya dengan demand, supply bisa juga dipandang sebagai fungsi harga yang ditentukan oleh jmlah yang ditawarkan, dan dikenal. Dalam kondisi tersebut yang dicari bukan harga keseimbangan, tetapi jumlah keseimbangan
P (q* ) = P (q* ) 

Statis Komparatif

    Merupakan analisa 2 kondisi keseimbangan. Karena merupakan analisa statis, maka yang dibahas hanya hasil akhir kondisi keseimbangan dan bukan proses penyesuaian (adjustment) dalam mencapai kondisi keseimbangan. Keseimbangan dapat berubah karena pergeseran salah satu kurva, supply atau demand, atau pergeseran kedua kurva sekaligus. Pergeseran dapat mengubah atau tidak mengubah harga keseimbangan.
Pergeseran kedua kurva yang tidak mengubah harga keseimbangan

Dampak Pajak

    Jenis-jenis pajak yang dianalisa (pajak ad valorem):

  • Pajak kuantitas
  • Pajak nilai

Secara umum Pajak Kuantitas merupakan jumlah absolut yang ditambahkan pada harga penawaran per unit
  Sedangkan Pajak Nilai merupakan nilai persentase yang ditambahkan pada harga penawaran per unit
 PD  = (1 + r )PS
Pergeseran kurva
  Pajak dapat dikenakan kepada konsumen/ pembeli maupun kepada produsen/ penjual, sehingga dapat menggeser kurva permintaan atau penawaran. Pergeseran tersebut menunjukkan bahwa harga menjadi lebih tinggi pada setiap tingkat D dan S.

  Jika pajak langsung dikenakan kepada konsumen, maka dengan sejumlah pengeluaran (expenditure) yang sama konsumen hanya akan memperoleh barang dalam jumlah yang lebih sedikit karena sebagiannya digunakan untuk membayar pajak. Dengan kata lain, harga naik, kuantitas turun dan kurva demand bergeser ke kiri (inward).

  Jika pajak dikenakan kepada produsen, maka biaya produksi akan meningkat. Dengan modal yang sama produsen hanya dapat berproduksi dalam jumlah yang lebih sedikit dan menjual dengan harga yang lebih mahal. Dengan kata lain, harga naik, kuantitas turun dan kurva demand bergeser ke kiri (inward)

Pergerakan di sepanjang kurva

  Pajak juga dapat menyebabkan pergerakan di sepanjang kurva demand dan supply. Bagi konsumen naiknya harga yang disebabkan oleh pemberlakuan pajak menyebabkan turunnya jumlah permintaan, dan permintaan bergerak ke kiri atas kurva D.

  Bagi produsen, naiknya biaya yang disebabkan pemberlakuan pajak menyebabkan turunnya jumlah produksi, dan penawaran bergerak ke kiri bawah. Ketika pada akhirnya jumlah D = jumlah S, maka ditemukan harga keseimbangan pasar

Siapa yang menanggung pajak?

  Banyak yang mengira bahwa pajak tidak akan mempengaruhi keuntungan produsen karena produsen dapat ‘membebankan’ seluruh pajak tersebut ke konsumen dengan meningkatkan harga jual.

  Namun demikian, hal tersebut sangat tergantung pada elastisitas kurva supply. Pajak hanya dapat dibebankan ke konsumen jika kurva supply elastis. Semakin elastis kurva tersebut, maka semakin besar pajak yang bisa dibebankan ke konsumen, dan sebaliknya.

Dua kasus khusus

Deadweight Loss akibat Pajak


Pemberlakuan pajak menyebabkan naiknya harga yang harus dibayar konsumen dan turunnya harga yang benar-benar diterima produsen. Hal tersebut jelas merupakan cost untuk demander dan supplier. Akan tetapi, menurut ekonomis, cost yang sebenarnya adalah penurunan jumlah output.

Interpretasi DWL

  Loss dari surplus konsumen (CS) menunjukkan seberapa besar konsumen bersedia membayar untuk menghindari pajak. Pada gambar terlihat bahwa konsumen bersedia ‘membayar’ sebesar A+B untuk menghindari pajak. Demikian juga dengan loss dari surplus produsen (PS), yang pada gambar ditunjukkan oleh area B+D

Efisiensi Pareto/ Pareto Optimal

Efisiensi Pareto:
kondisi ekonomi dimana tidak ada cara lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan seseorang tanpa mengurangi kesejahteraan orang lain.

Pada jumlah di bawah keseimbangan, harga yang bersedia dibayar konsumen tidak sama dengan harga yang bersedia diterima produsen.

Konsumen bersedia membayar lebih mahal, sedangkan produsen bersedia menerima harga yang lebih murah.

Dengan demikian, baik produsen masih dapat ditingkatkan kesejahteraannya tanpa harus merugikan yang lain, dengan cara meningkatkan jumlah output

Post a Comment

Berkomentar sesuai dengan judul blog ini yah, berbagi ilmu, berbagi kebaikan, kunjungi juga otoriv tempat jual aksesoris motor dan mobil lengkap

Lebih baru Lebih lama