Laba komprehensif merupakan salah satu elemen statemen keuangan. Laba komprehensif didefinisi sebagai perubahan ekuitas selama perioda yang berasal dari sumber-sumber nonpemilik. Dengan dianutnya pendekatan laba semua-termasuk atau laba komprehensif, masalahnya adalah bagaimana menyajikan komponen-komponen pembentuk laba komprehensif dan bagaimana penyajian dalam statmen laba-rugi. Berikut ini memuat komponen-komponen pembentuk statmen laba-rugi.


Komponen-Komponen Pembentuk Statemen Laba-Rugi
1. Seksi operasi utama (major operating activities section) :
  • a. Penjualan atau pendapatan (sales or revenues)
  • b. Kos barang terjual (cost of goods sold)
  • c. Biaya penjualan (selling expenses)
  • d. Biaya administrative atau umum (administrative or general expenses)

2. Seksi operasi tambahan (secondary or auxiliary activities section) :
  • a. Pendapatan lainnya dan untung (other revenues and gains)
  • b. Biaya lainnya dan rugi (other expenses and losses)

3. Pajak penghasilan (income taxes)
4. Operasi hentian / taklanjutkanan (discontinued operations)
5. Pos-pos luar biasa / ekstraordiner (extraordinary items)
6. Pengaruh kumulatif perubahan prinsip akuntansi (cumulative effects of changes in accounting principles)
7. Pengaruh kumulatif perubahan estimate / taksiran (cumulative effects of changes in accounting estimates)
8. Perubahan ekuitas nonpemilik lainnya (other nonowner changes in equity) termasuk pos-pos penerobos

Pada nomor 6 dan 7 dalam Komponen-Komponen Pembentuk Statemen Laba-Rugi juag dikategori sebagai komponen perubahan ekuitas nonpemilik dan keduanya disebut pengaruh kumulatif perubahan akuntansi atau penyesuaian kumulatif akuntansi (cumulative accounting adjustments) sehingga pos-pos selain yang masuk dalam kategori ini disebut dengan perubahan ekuitas nonpemilik lainnya (other nonowner changes in equity). Karena pada nomor 1 sampai 8 semuanya masuk dalam statemen laba-rugi, angka bersih yang diperoleh disebut dengan laba komprehensif (comprehensive income). Tujuan dimasukkannya nomor 8 dalam statemen laba-rugi adalah untuk mencegah penyembunyian atau penghilangan (omissions) secara diskresioner pos-pos laba atau rugi tertentu dari statemen laba-rugi. Dengan kata lain, tujuannya adalah mencegah penyalahgunaan (abuse).

Nomor 6 dan 7 dikeluarkan dari laba bersih dan dilaporkan sebagai perubahan ekuitas nonpemilik dan angka bersih yang diperoleh dari nomor 1 sampai 5 disebut dengan laba perioda (earnings) dan laba perioda setelah nomor 6 dan 7 disebut laba perioda bersih (net earnings) atau tetap laba bersih. Bila terjadi rugi, laba komprehensif menjadi rugi komprehensif. Laba komprehensif dapat disebut pula perubahan ekuitas nonpemilik total (total nonowner changes in equity).

Terdapat dua pendekatan penyusunan statemen laba-rugi untuk menyajikan nomor 1 sampai 8. Pendekatan satu-statemen (one-statement approuch) menyajikan kedelapan komponen tersebut dalam satu statemen yang diberi judul statemen laba-rugi dan laba-rugi komprehensif (statement of income and comprehensive income). Pendekatan dua-statemen memisahkan pelaporan komponen 1 sampai 7 dalam statemen laba-rugi (statement of income) dan menyajikan pengaruh komponen 8 terhadap laba perioda bersih dalam statemen laba-rugi komprehensif (statement of comprehensive income).

Biaya bunga (interest expenses) dimasukkan dalam komponen biaya lainnya dan rugi. Angka bersih setelah biaya lainnya dan rugi serta pajak penghasilan disebut laba dari operasi berlanjut (income from continuing operatios). Jadi, komponen 1 sampai 3 disebut komponen operasi (dalam arti luas) dan membentuk laba dari operasi berlanjut. Hal ini berarti bahwa pos-pos dalam komponen pendapatan lainnya dan untung atau biaya lainnya dan rugi tidak dipandang sebagai pos-pos nonoperasi. Oleh karena itu, pos-pos dalam komponen 4 sampai 8 sering disebut pos-pos takregular atau takteratur (irregular items). Pengertian takregular menjadi masalah bila dikaitkan dengan makna takumum atau takbiasa (unusual) dan luar biasa atau ekstraordiner (extraordinary). Persoalannya adalah kapan suatu pos harus dikategori sebagai komponen 2, 5, atau lainnya. Bila masuk komponen 5, apakah pos tersebut takbiasa atau luar biasa. Kriteria unutk mengklasifikasi suatu kejadian atau transaksi yang membentuk pos-pos luar biasa yaitu :

a. ketakbiasaan (unusual nature)
b. ketakseringan keterjadian (infrequency of occurence)
c. materialitas (materiality)

Untuk mengkategori suatu kejadian atau transaksi ke dalam pos luar biasa, ketiga karakteristik tersebut harus dipenuhi. Ketakbiasaan berarti bahawa kejadian atau transaksi yang melandasi suatu pos mempunyai tingkat keabnormalan yang tinggi dan harus jelas-jelas merupakan jenis yang sama sekali tidak berkaitan atau hanya berkaitan secara insidental dengan kegiatan perusahaan dalam konteks lingkungan beroperasinya perusahaan. Ketakseringan keterjadian / terjadinya berarti bahwa kejadian atau transaksi yang melandasi suatu pos merupakan jenis yang bukan harapan umum atau yang tidak diantisipasi akan terjadi di masa datang dalam konteks lingkungan beroperasinya perusahaan.

Materialitas berarti bahwa kejadian atau transaksi yang melandasi suatu pos harus diklasifikasi secara terpisah sebagai pos luar biasa hanya kalau iumlah yang terlibat material dalam kaitannya dengan atau relatif terhadap angka laba sebelum pos luar biasa, kecenderungan (trend) laba perioda sebelum pos luar biasa, atau ukuran materialitas yang lain. Bila suatu pos material teapi hanya memenuhi kriteria a atau b, tidak dapat diklasifikasi sebagai pos luar biasa.

Contoh pos-pos yang dapat dimasukkan dalam kategori ini misalnya adalah penghapusan piutang, sediaan, serta kos riset dan pengembangan; untung atau rugi penjabaran valuta asing termasuk akibat devaluasi atau revaluasi; untung atau rugi pelepasan segmen bisnis; untung atau rugi penjualan aset fisis; efek pemogokan; dan penyesuaian akrual atas kontrak jangka panjang. Intinya, pos-pos material yang tak biasa atau taksering, tetapi tidak keduanya, masuk dalam kategori ini. Mereka dilaporkan dalam seksi / komponen terpisah di atas pos ekstraordiner. Dapat juga dilaporkan dalam seksi operasi tambahan kalau jumlahnya tidak material.

Berikut ini adalah contoh Penyajian Statemen Laba-Rugi Komprehensif Pendekatan Dua Statemen:
PT ABC
Statemen Laba-Rugi
Untuk Tahun Berakhir 31 Desember 200X
(dalam rupiah)
Pendapatan / Penjualan 51.680.000
Kos barang terjual            (28.430.000)
Laba kotor penjualan 23.250.000
Biaya penjualan dan administratif            (12.500.000)
Laba dari operasi utama 10.750.000
Pendapatan lainnya dan untung 1.630.000
Biaya lainnya dan rugi   (795.000)      835.000
Laba dari operasi berlanjut, sebelum pajak   9.915.000
Pajak penghasilan (2.225.000)
Laba dari operasi berlanjut   7.690.000
(income from continuing operations)
Operasi hentian, setelah pajak     (290.000)
Laba sebelum pos ekstraordiner dan pengaruh   7.400.000
kumulatif perubahan akuntansi
Pos-pos ekstraordiner, setelah pajak      150.000
Laba perioda (earnings)   7.550.000
Pengaruh kumulatif perubahan akuntansi, setelah pajak      365.000
Laba perioda bersih (net earnings) / laba bersih   7.915.000

PT ABC
Statemen Laba-Rugi Komprehensif
Untuk Tahun Berakhir 31 Desember 200X
(dalam rupiah)
Laba perioda bersih 7.915.000
Perubahan ekuitas nonpemilik lainnya:
Penyesuaian penjabaran mata uang asing 314.500
Untung belum terealisasi atas sekuritas   56.500    371.000
Laba komprehensif 8.286.000

Secara umum dapat disimpulkan bahwa pos-pos takregular dilaporkan seperti pada contoh di atas. Pos-pos material yang tidak memenuhi kriteria ekstraordiner dilaporkan terpisah antara seksi operasi hentian dan seksi pos ekstraordiner. Di bawah ini melukiskan kaidah keputusan untuk menyajikan semua pos atau komponen pembentuk statemen laba-rugi komprehensif.

Pedoman Penyajian Pos-Pos Pembentuk Statemen Laba-Rugi
Pedoman Penyajian Pos-Pos Pembentuk Statemen Laba-Rugi

Statemen laba-rugi harus disajikan sedemikian sehingga mengungkapkan berbagai unsur kinerja keuangan yang bermanfaat bagi pemakainya. Oleh karena itu, statemen laba-rugi minimal harus menyajikan dan menonjolkan hal-hal berikut :

a. pendapatan
b. laba atau rugi usaha
c. biaya pinjaman
d. bagian dari laba atau rugi perusahaan terafiliasi dan terasosiasi yang diperlakukan dengan metode ekuitas
e. pajak penghasilan
f. laba atau rugi dari aktivitas normal perusahaan
g. pos luar biasa
h. hak minoritas
i. laba atau rugi bersih perioda berjalan

Ketentuan tersebut bersifat umum dan berlaku untuk perusahaan jasa, perdagangan, maupun pemanufakturan. Butir b sebenarnya adalah laba antara setelah pendapatan atau butir a dikurangi dengan biaya-biaya usaha. IAI sendiri tidak secara eksplisit menentukan apa saja yang harus masuk dalam statemen laba-rugi. Yang jelas, versi laba komprehensif memasukkan ke dalam statemen laba-rugi semua komponen perubahan ekuitas nonpemilik. Dalam ’Komponen-Komponen Pembentuk Statemen Laba-Rugi’ di atas, komponen 1 sampai 7 pada dasarnya merupakan komponen perubahan ekuitas nonpemilik sedangkan komponen 8 merupakan komponen perubahan ekuitas nonpemilik selain 1 sampai 7 sehingga disebut other nonowner changes in equity. Termasuk dalam komponen 8 adalah pos-pos penerobos yang masuk pula dalam statemen laba-rugi komprehensif. Telah disinggung alasan pemasukan pos-pos ini adalah untuk mengantisipasi perkembangan masa datang dan untuk menghindari penyalahgunaan dalam bentuk manajemen laba. Namun demikian, faktor atau perubahan ini dapat menimbulkan masalah penyajian. FASB menyatakan hal ini sebagai berikut :

Those factors sometimes may conflict or appear to conflict. For example, an all inclusive income statement is intended, among other things, to avoid discretionary omissions of losses (or gains) from an income statement, thereby avoiding presentation of more (or less) favorable report of performance or stewardship than is justified. However, because income statements also are used as a basis for estimating future performance and assessing future cash flow prospects, arguments have been advanced urging exclusion of unusual or nonrecurring gains and losses that might reduce the usefulness of an income statement for any one year for predictive purposes.

Dalam PSAK no.25, IAI mengenalkan konsep laba atau rugi dari aktivitas normal yang dalam PSAK no.1 disebut sebagai laba atau rugi usaha. Konsep ini sama dengan konsep FASB yang disebut laba dari operasi berlanjut. PSAK no.25 juga mengenalkan konsep laba atau rugi untuk perioda berjalan yang merupakan angka bersih dari komponen berikut:

a. laba atau rugi dari aktivitas normal, dan
b. pos luar biasa

Dari uraian dalam PSAK no.25 dapat dikatakan bahwa laba atau rugi untuk perioda berjalan setara dengan konsep laba perioda (earnings) yang dikemukakan FASB. Dapat dikatakan demikian karena komponen operasi hentian (operasi yang tidak dilanjutkan) dalam PSAK no.25 dapat diperlakukan sebagai pos aktivitas normal atau pos luar biasa bergantung pada kondisi yang melingkupi.

Konsep aktivitas normal yang digunakan IAI tampaknya digunakan untuk menunjuk apa yang oleh FASB disebut komponen regular sehingga yang tidak masuk dalam komponen aktivitas normal dapat disebut sebagai komponen takregular. Walaupun demikian, pengertian pos luar biasa menurut PSAK no.25 tampaknya lebih luas daripada pengertian menurut FASB. Hal ini terlihat dari ketentuan bahwa komponen operasi hentian dan perubahan estimasi akuntansi dimungkinkan untuk dilaporkan sebagai pos luar biasa (pasal 20 dan 28). 

Karena ada pos-pos penerobos, IAI tidak menerapkan konsep penyusunan statemen laba-rugi semua-termasuk secara penuh. Dengan kata lain, laba bersih (angka akhir) dalam statemen laba-rugi versi IAI tidak dapat dikatakan sebagai laba komprehensif penuh. Dalam PSAK no.25 tidak dibahas atau dikenal yang disebut efek kumulatif perubahan akuntansi yang harus dilaporkan dalam statemen laba-rugi berjalan (currently) sebagai alternatif perlakuan. Pendekatan semacam ini disebut dengan current atau catch-up method sebagaimana dicontohkan dalam Penyajian Statemen Laba-Rugi Komprehensif Pendekatan Dua Statemen di atas. Walaupun demikian, PSAK no.25 memperlakukan perubahan estimasi akuntansi sebagai komponen statemen laba-rugi.

Berikut ini merupakan ringkasan perlakuan terhadap komponen-komponen takregular dalam PSAK no.25 dan cara penyajiannya.

Komponen-Komponen Takregular dalam PSAK no.25 dan Penyajiannya

Komponen Perlakuan dan Penyajian

Pos luar biasa Komponen laba-rugi. Disajikan setelah laba yang berasal dari kegiatan normal perusahaan ditambah pengungkapan dalam catatan kaki mengenai hakikat dan pertimbangan keputusan

Operasi hentian Komponen laba-rugi. Ditambah pengungkapan  (yang tidak dilanjutkan) dalam catatan kaki mengenai hakikat dan pertimbangan keputusan.
Tidak memenuhi kriteria luar biasa : disajikan sebagai pos dalam kegiatan normal.
Memenuhi kriteria luar biasa : disajikan sebagai pos luar biasa.
Ada unsur ketidakpastian : disajikan sebagai pos kebergantungan (contingencies)
Perubahan estimasi akuntansi Komponen laba-rugi. Disajikan dalam perioda terjadinya dan perioda akan datang atau prospektif (bila perlu) ditambah pengungkapan dalam catatan kaki mengenai hakikat perubahan. Disajikan dalam klasifikasi yang sama dengan yang digunakan sebelumnya untuk estimasi yang bersangkutan.
Kesalahan mendasar Penyesuai laba ditahan dengan kewajiban penyesuaian retrospektif bila dipandang praktis ditambah pengungkapan dalam catatan kaki tentang hakikat dan informasi lain yang berpaut.
Komponen laba-rugi bila kesalahan tidak mendasar.
Perubahan kebijakan akuntansi Penyesuai laba ditahan secara retrospektif atau prospektif ditambah pengungkapan tentang alasan perubahan dan informasi lain yang berpaut.

Post a Comment

Berkomentar sesuai dengan judul blog ini yah, berbagi ilmu, berbagi kebaikan, kunjungi juga otoriv tempat jual aksesoris motor dan mobil lengkap

Lebih baru Lebih lama