Oleh:
Suliyanto, Adi Indrayanto, Sri Murni Setyawati
Universitas Jenderal Soedirman

The  purpose  of  this  research  is  to  improve  the  performance  of  SMEs  in Purbalingga batik using a benchmark strategy approach. This study used qualitative methods, data collection with Focus Group Discussion (FGD), in-depth interviews and observation. The study found that although the batik craftsmen have training assistance from various parties but the performance has not met expectations this is because the capacity and mindset (mind set) the craftsmen. Knowledge and skills acquired from the training activities and tools provided have not been applied and used to the maximum by the craftsmen because they lack confidence. One way to overcome this problem is to use a strategy bencmarking and continuous assistance.

Identifikasi Masalah Batik Purbalingga

Berdasarkan   hasil   analisis   kualitatif   dan   FGD   dapat   diidentifikasi permasalahan  utama  yang masih  dihadapi  dalam  upaya  pengembangan  batik Purbalingga. Permasalahan tersebut adalah :

1.  Baru sedikit pengrajin yang bersedia untuk mempraktikkan hasil pelatihan batk cap, yang diberikan dengan alasan:
  • a)   Masih takut mencoba sendiri, takut salah.
  • b) Belum ada modal, karena untuk membuat batik cap malam yang dibutuhkan sedikit lebih banyak dibanding dengan membuat batik tulis.
  • c) Belum    adanya    tenaga    pendamping    yang    senantiasa    melakukan pendampingan dalam masa-masa awal pembuatan batik cap.
  • d) Keterbatasan  jumlah  motif  cap  yang  dimiliki,  sehingga  menimbulkan keraguan untuk berproduksi.

2.  Masih sedikit pengrajin yang mau mempraktikkan hasil pelatihan pewarnaan untuk mewarnai sendiri batik yang mereka buat. Dengan alasan, diantaranya:
  • a)   Masih kurang percaya diri untuk mewarnai sendiri batik mereka..
  • b) Tidak ekonomis. Para pengrajin menganggap bahwa mewarnai sendiri lebih mahal dibandingkan dengan mempercayakan pewarnaan ke Banyumas, karena kapasitas batik yang mereka produksi setiap bulan belum terlalu banyak.

3.   Belum siapnya para pengrajin untuk memenuhi permintaan pelanggan. Hal ini karena pengrajin tidak mampu untuk memenuhi permintaan karena tidak mampu membuat   sendiri. Dan jika dibagi ke beberapa pembatik yang lain,dikhawatirkan hasil batik tidak sesuai dengan spesifikasi yang diminta oleh pelanggan.

4.   Belum dipraktekannya strategi pemasaran dan administrasi keuangan dalam mengelola usaha batik.

Belum  dipraktekkannya  strategi  pemasaran  disebabkan  karena  mereka merasa masih malu untuk bertindak sebagai pemasar.   Hal ini disebabkan para pengrajin sudah secara turun temurun bekerja sebagai pembantik yang notabene adalah bagian produksi, sedangkan untuk memasarkan pengepul yang datang untuk mengambil kain hasil batikan, bahkan ada yang menerapkan sistem ijon.

Hasil di atas menunjukkan bahwa hambatan terbesar yang dihadapi dalam pengembangan batik di Kabupaten Purbalingga terkait dengan kapasitas dan pola pikir (mind set) para pengrajin. Meskipun berbagai upaya pelatihan dan pembinaan serta berbagai bantuan telah diberikan, namun sayangnya, pengetahuan yang diperoleh dari berbagai kegiatan pelatihan dan alat yang diberikan belum diterapkan dan digunakan secara maksimal oleh para pengrajin. 

Pola pikir (mind set) para pengrajin merupakan akibat dari pola yang sudah terbentuk selama ini. Pengrajin batik Purbalingga terkenal hanya diposisikan sebagai pengobeng (buruh batik) oleh para juragan batik dari Banyumas dan daerah-daerah lain, oleh para juragan tersebut, kemampuan yang diberikan ke pengrajin batik Purbalingga dibatasi, hanya sebatas menyanthing saja.

Untuk  mengatasi  masalah-masalah  di  atas,  dirumuskan  draft  solusi sebagai berikut :
  1. Perlu dilakukannya evaluasi secara lebih mendalam mengenai metode dan materi pelatihan yang diberikan kepada para pengrajin.
  2. Perlunya    upaya    untuk    menambah    wawasan    pengrajin    mengenai perkembangan batik di lain daerah.
  3. Perlunya upaya pendampingan yang intensif untuk merubah mind set dan pola pikir pengrajin yang telah terbentuk selama ini.
  4. Perlunya upaya untuk memperkuat kelembagaan organisasi para pengrajin yang sudah terbentuk yaitu Forum Pengrajin Batik Purbalingga.

Identifikasi dan penentuan kompetensi dan keunggulan yang dimiliki oleh

UMKM batik Banyumas dan Cilacap Untuk   meningkatkan   dan   menambah   pengetahuan,   wawasan   serta ketrampilan   para   pengrajin   batik   di   Kabupaten   Purbalingga   dalam   proses pembuatan batik akan dilakukan kajian benchmark dengan UMKM Batik di Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap. Pendekatan ini dipilih dengan pertimbangan bahwa untuk dapat meningkatkan pengetahuan, kualitas produk dan efisiensi  proses  produksi  tidak  harus  dengan  menemukan  proses  baru,  apabila proses itu sendiri sudah ada. UMKM batik di Banyumas dan Cilacap memiliki proses yang lebih baik, maka hal logis yang perlu dilakukan oleh UMKM batik di Purbalingga   adalah   mengadopsi   dan   kemudian   melakukan   penyempurnaan sehingga  dapat  memperoleh  hasil  yang  lebih  baik  dan  sesuai  dengan  kondisi UMKM di Kabupaten Purbalingga.

Dari hasil FGD antara tim peneliti dengan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Purbalingga, Forum Pengrajin Batik Purbalingga dan pengrajin batik Purbalingga, berhasil dirumuskan keunggulan dari UKM Batik R di Kabupaten Banyumas, dan UKM Batik Rajasamas di Kabupaten Cilacap yang akan digunakan sebagai dasar benchmark, yaitu :

1. Keunggulan UKM Batik R
a.  Penanganan bahan baku
Penanganan  bahan  baku  pada  UKM  batik  R  sangat  baik.  UKM  sudah memiliki  supplier tetap untuk  bahan  baku  yang dibutuhkan  dalam  proses produksi batik. Dengan adanya supplier ini maka kontinuitas ketersediaan bahan baku, seperti kain, malam, dan bahan pewarna batik dapat terjamin, baik dari segi jumlah maupun harga

b. Proses produksi yang efisien
Proses  produksi  UKM  Batik  R  sudah  sangat  efisien.  UKM  Batik  R melakukan keseluruhan proses pembuatan batik sendiri. Pada proses pembuatan batik tulis, setelah kain dipola, akan dicanting oleh pengrajin- pengrajin  batik  tulis  yang  ada  di  Desa  Sokaraja  Kulon.  Pada  proses pembuatan batik cap, UKM memiliki kurang lebih 15 orang tenaga kerja khusus untuk membuat batik cap. Selain itu, UKM juga memproduksi kain batik kombinasi. Saat ini UKM sudah memiliki alat pembuat biron (bahan dasar batik/ batik setengah jadi sendiri). Keunggulan dari dimilikinya mesin pembuat biron ini adalah :
  •   UKM tidak lagi tergantung pada biron dari Pekalongan.
  •   UKM dapat membuat berbagai desain yang beragam
  •   Desain yang dihasilkan unik dan tidak ketinggalam jaman 
c.  Penanganan limbah
Dalam hal penanganan limbah, UKM batik R telah mampu melalukan proses penanganan limbah yang dihasilkan dari dengan baik, khususnya limbah malam. Limbah malam hasil proses lorod yang pertama dapat didaur ulang menjadi malam yang dapat digunakan kembali untuk membatik.

d. Penanganan SDM
UKM Batik R memiliki kurang lebih 50 orang tenaga kerja, yang terdiri dari 25 orang tenaga kerja wanita dan 25 orang tenaga kerja laki-laki. Pembagian tugas untuk tiap-tiap tenaga kerja sudah efisien

e.  Pembagian tugas untuk efisiensi proses produksi
Tenaga  kerja  wanita  bekerja  dalam  proses  pembuatan  batik  tulis,  karena wanita relative lebih teliti dan telaten dalam mencanting kain. Sedangkan tenaga kerja laki-laki melakukan pekerjaan yang lebih berat, yaitu membuat batik cap. Dalam pembuatan batik cap dipekerjakan tenaga kerja laki-laki, karena  canting cap  mempunyai  bobot  yang lebih berat  dibanding dengan canting untuk membuat batik tulis. Selain itu, tenaga kerja laki-laki juga bertugas di bagian pewarnaan, membuat biron, dan membabar.

Keunggulan UKM Batik Rajasamas, Cilacap

a.   Strategi penentuan harga, promosi, dan pengembangan jaringan pemasaran 
UKM Batik Rajasamas di Cilacap memiliki keunggulan dalam jangkauan pemasaran, dimana jangkauan pemasaran untuk produk batik mereka sudah jauh lebih luas. Produk batik UKM Rajasamas tidak hanya dipasarkan di dalam negeri saja, tetapi sudah dikenal hingga mancanegara.

b.   Manajemen  keuangan
Pengelolaan modal kerja dan manajemen usaha UKM Batik Rajasamas sangat baik.   UKM   Batik     Rajasamas   baru   didirikan   pada   tahun   2009.   Dengan pengelolaan dan manajemen keuangan yang baik perusahaan dapat berkembang dengan pesat hingga saat ini.

Berdasarkan hasil Focus Group Discussion antar stakeholder yang terkait dengan upaya pengembangan industri batik di Kabupaten Purbalingga yaitu perajin dan  pengusaha batik  di  wilayah  Kabupaten Purbalinga,  Forum  Pengrajin  Batik (FPB ) Purbalingga, masyarakat pemerhati batik, pejabat dari instansi yang terkait seperti, Dinas perindustrian perdagangan dan koperasi di Kabupaten Purbalingga serta  pengurus  Dekranasda  Kabupaten  Purbalingga  maka  dapat  disusun  model peningkatan  kapasitas  dan  kinerja  UMKM  dengan  pendekatan  benchmarking  strategy
seperti tercantum dalam lampiran.

KESIMPULAN DAN SARAN 

1.  Kesimpulan

Masih  sedikit  pengrajin  batik  purbalingga  yang  mengaplikasikan  pelatihan batik cap, pewarnaan dan manajemen pemasaran. Hambatan terbesar yang dihadapi dalam pengembangan batik di Kabupaten Purbalingga terkait dengan kapasitas dan pola pikir (mind set) para pengrajin.

2.  Saran

Untuk meningkatkan dan menambah pengetahuan, wawasan serta ketrampilan para pengrajin batik di Kabupaten Purbalingga dalam proses pembuatan batik akan dilakukan kajian benchmark dengan UMKM Batik di Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap. Perlu dilakukan pendampingan intensif untuk merubah mind set dan pola pikir pengrajin yang telah lama terbentuk, serta perlu adanya penguatan kelembagaan Forum Pengrajin Batik (FPB) Purbalingga.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Abbott, Carl, 2001,Business Improvement Through the Benchmark Index, Center for Construction Innovation.
  2. Novandari, Indriati, 2011.Creativepreneurship;    Analisis Peran Inovasi dan Kreativitas SDM Dalam Pengembangan Industri Kreatif Sub Sektor Kerajinan Batik di Purbalingga.
  3. Suliyanto Novandari, Wulandari (2010) Pengembangan Model Strategi Bersaing Batik Purbalingga (Kajian Dengan Pendekatan Analytical Hierarchy Process dan QSPM).
  4. Suliyanto, Astogini, Novandari .2011.Model Optimalisasi Sentra Industri Kreatif Batik Tulis Dagan Dengan Pendekatan One Village One Product (OVOP).
  5. Szulanski,  G.,  ”Impediments  To  Transfer  of  Best  Practice  Within  The  Firm”, Strategic Management Journal, v. 17, 1996, 27-44 Sumber ; Suara Banyumas, 2011. http://www.news.id.finroll.com http://www.purbalinggakab.go.id 

Post a Comment

Berkomentar sesuai dengan judul blog ini yah, berbagi ilmu, berbagi kebaikan, kunjungi juga otoriv tempat jual aksesoris motor dan mobil lengkap

Lebih baru Lebih lama