Kasus 1: Kemitraan Usaha Wisata Alam.

Taman Kupu-kupu di Curug Tujuh Cilember Bogor, sebagai upaya untuk pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.

Curug Tujuh merupakan salah satu air terjun di Curug Cilembar bogor, desa Jojogan Ke. Cilember, Kecamatan Megamendung Kab. Bogor. Objek wisata alam yang kini menjadi proyek Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) antara Perhutani KPH Bogor dengan penduduk setempat akan berkembang menjadi “surga” berbagai jenis kupu-kupu. Jika dipelihara dan dikembangkan terus akan dapat menyamai kemashuhuran Taman Kupu Kup Bantimurung di kab. Maros, Sulawesi Selatan.


Taman Kupu-kupu di Curug Tujuh, sedang dikembangkan untuk menambah daya tarik Curug Cilember. Sebuah sangkar raksasa telah dibangun, dimana beberapa species kupu-kupu telah mulai diternakkan, antara lain: Papilio memmon, Papilio helenus, Graphium agamenon, Graphium saroedeon, Eupleoamuciber, Elymnias sp, Troides helena, Trides amphrysus dan jenis kupu-kupu langka dari species Trides sulena, dan masih banyak lagi species. Kupu-kupu Curug Tujuh Cilember semuanya kupu-kupu local. Belum ada species luar seperti halnya di Batimurung.

Taman Kupu-kupu Batimurung telah dikembangkan lama dan sudah terkenal di seluruh dunia dan sudah berjalan lama. Ratusan jenis kupu-kupu dari seluruh penjuru tanah air disilangkan satu sama lain sehingga menghasilkan jenis kupu- kupu yang lebih indah, misalnya jenis Graphium androcles yang meurpakan asli Batimurung dan termasuk jenis yang dilindungi. Troides hypolitus (kupu-kupu raja hipbilitus), Troides hypolitus (kupu-kupu raja halipron), Troides Helena (kupu- kupu raja Helena), dan Centhosia myrina (kupu kupu Bidadari), serta kupu-kupu asal Nabire Papilio ulyses telegonus yang sangat mengagumkan berkat paduan warnanya.

Di Taman Kupu Curug tujuh jika telah berkembang baik, mungkin akan didatangkan bibit kupu kupu dari daerah lain agar lebih semarak, tetapi sekarang masih dalam tahap perintisan. Kegunaannya lebih ditekankan kepada aspek pendidikan, baik untuk pelajar, mahasiswa maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kecintaaan kepada kelestarian alam. Taman ini diharapkan akan menyamai Taman Kupu-kupu Bantimurung, bahkan akan lebih baik sebab kondisi alam Cilember lebih mendukung dimana keberadaannya berada pada kawasan hutan lindung Gunung Hambalang Barat yang masih benar benar utuh terjaga, banyak ditumbuhi aneka macam flora yang pada musimnya semarak berbunga.

Secara ekologis, Gunung Hambalang Barat tempat Curug Cilember berada merupakan penyangga penting kawasan Jakarta dan Bogor, sehingga tidak boleh terganggung kelestariannya. Keberadaan objek wisata Curug Cilember sangat membantu penjagaan hutan, terutama setelah digulirkannya program PBHM yang melibatkan masyarakat dalam mengelola dan mendayagunakan potensi hutan. Perhutani Bogor telah menjalin kerjasama dengan pemerintah Desa Jojogan. Dari karcis masuk Rp. 2750, pihak desa mendapat Rp. 500. Ikatan remaja Masjid (Irmas) juga diikutsertakan untuk mengelola lahan parkir, kebersihan (K3) dan MCK dengan pembagian 40% untuk Irmas dan 60% untuk Perhutani.

Pola pengelolaan sistem PHBM itu ternyata sangat menguntungkan masyarakat sekitar lokasi hutan mendapat penghasilan, sekaligus memberi dukungan penuh kepada Perhutani dalam memelihara dan menggali potensi hutan.

Data yang tercatat di lokasi Wana Wisata Cilember, tahun 2001 yang lalu ada sekitar 57.279 wisatawan yang berkunjung ke Curug Cilember. Penghasilan pendapatan sebesar Rp. 128 juta. Sebagian besar wisatawan sangat meminati camping, koleksi bunga anggrek dan tentu saja Taman Kupu-kupu yang kelak akan menjadi “mascot” Curug Cilember, disamping air terjun yang berair jernih dan bersuhu dingin.

Lokasi Curug Cilember sekitar 10 km dari pintu Tol Jagorawai, pada jalur wisata Cisarua-Puncak. Objek Wisata Alam Curug Cilember dengan Taman Kupu-kupu, camping ground, koleksi bunga dan kekayaan flora dan faunanya yang unik akan memiliki popularitas khusus. Pengelola dituntut untuk berpromosi, mampu mencatatkan agenda ke Asita, menggandeng PHRI dan lembaga kepariwisataan lainnya. Wana wisata Curug Cilember memiliki keunikan khusus Taman Kupu- kupu yang kelak akan menjadi primadona, mengikuti jejak Bantimurung. (Sumber H. Usep Roni HM, PR, 10 Februari 2002).

Kasus 2: Konservasi Situ dan Pengembangan Agrowisata Tanaman Hias

Banyak Situ atau Danau di seputar Kota Depok, Jawa Barat yang tidak berfungsi lagi sebagai kawasan resapan air. Sempadan Situ ditumbuhi semak belukar, dan malahan banyak situ telah ditimbun sebagai kawasan perumahan. Pada fungsi situ atau danau sebagai resapan air akan memberikan air tanah bagi kawasan untuk air sumur dan menahan aliran permukaan ke daerah hilir yang dapat menimbulkan banjir, atau kekeringan pada musim kemarau.

Sebagai contoh adalah Situ Pengasinan di Kecamatan Sawangan. Situ tersebut hampir lenyap karena berubah, karena penduduk setempat merubahnya menjadi sawah, bahkan nyaris diuruk menjadi perumahan oleh penduduk. Kerusakan lingkungan dapat dihindari karena Walikota Depok (Badrul Kamal) saat itu pada tahun 2003 meminta Dinas Pekerjaan Umum mengeruk danau seluas 6,5 Ha, sehingga Situ Pengasinan kembali pada fungsinya. Di sekitar situ dalam jarak 50 meter harus menjadi ruang terbuka hijau dan tidak diperbolehkan ada bangunan permanen.

Seorang lulusan Akademi Lanskap Heri membeli tanah seluas 3000 meter persegi, di tepi Situ Pengasinan yang ditumbuhi semak belukar. Heri mengubahnya menjadi menjadi tempat yang sedap dipandang, dimanana eralnya tetap merupakan bagian dari lanskap danau tersebut., dimana ada kolam ikan, tanaman hias dan rerumputan hijau. Warga yang semula mengusahakan sawah, untuk merubahnya menanam tanaman hias, tetapi petani kurang memberikan respon, dan menanti sampai seberapa jauh hasil dari usaha tanaman hias. 

Setelah mereka melihat bahwa tanaman hias dapat memberikan pendapatan lebih dari usaha padi sawah, akhirnya banyak warga di sekitar situ dan kelurahan lain di Sawangan menanam tanaman hias. Sampai akhir th 2006 sekitar 500 petani telah mengikuti ajakan Heri. Heri merasa bangga bahwa upaya memberdayakan masyarakat Sawangan ada hasilnya, dimana seorang petani tanaman hias dapat memperoleh penghasilan sekitar Rp 3 juta perbulan.

Konsep membangun Sawangan menjadi Agropolitan yang berbasis tanaman hias didukung oleh Bank. Melalui Program Perbankan Kemitraan Bank Mandiri, setiap petani dapat kredit sebagai modal usaha dengan bunga 6-8 persen pertahun. Dukungan tersebut bukan saja dari kalangan perbankan, tetapi juga dari Program Pendanaan Kompetensi Indeks Pembangunan (PPK-IPM) Provinsi Jawa Barat sebagai daerah pertanian tanaman hias. 

Minimal jalan masuk ke lokasi Situ Pengasinan dapat diaspal. Dukungan tersebut juga datang dari Walikota Depok yang baru Nur Mahmudi Ismail terhadap upaya pelestarian lingkungan hidup dan sekaliguas memberdayakan masyarakat dalam meningkatkan pendapat. Jika Situ Pengasinan berhasil menjadi kawasan agrowisata berbasis tanaman hias, maka akan menjadi percontohan bagi tiga puluhan situ yang ada diseputar Kota Depok1.

Pelajaran apa yang dapat ditarik dari contoh kasus ini ? Tumbuhnya seorang wirausaha yang memiliki sifat kewirausahaan yang mau bekerja keras, memiliki visi kedepan, melihat peluang masa depan dimana ada kecenderuangan kelompok masyarakat tertentu untuk memperindah halaman rumah atau kawasan perumahan yang asri, membantu masyarakat untuk meningkatkan pendapatannya, bukan semata mata untuk usahawan sendiri, membantu pihak pemerintah daerah dalam mengembangkan suatu kawasan yang sesuai dengan fungsinya dalam konservasi dan pengembangan lingkungan.

Kasus 3 Kemitraan antara Koperasi dan Bank Bukopin untuk mengembangkan Unit Usaha Simpan Pinjam dapat disebutkan beberapa contoh yang berhasil mengembangkan usahanya.

1. Kerjasama Kopsa (Koperasi Petani Sutera Alam) Merapi Sleman dengan Bank Bukopin, yang diresmikan th. 2000 oleh Bupati Sleman. Tantangan yang dihadapi adalah merubah sikap mental masyarakat untuk mau menyimpan pada Kopsa, tidak hanya menaruh uangnya pada salah satu Bank. Tantang bagi menubha sikap mental tersebut dan menaruh kepercayaan pada Kopsa Merapi. 


Taktik yang digunakan adalah bagaimana membidik nasabah yang dilakukan dengan mengikuti berbagai kegiatan tradisional, termasuk hajatan atau musibah kematian, dimana tenaga pemasaran terlibat banyak dalam kegiatan tersebut. yang dapat merubah simpati masyarakat. maupun perayaan Agustusan. Pada akhir Februari 2004 jumah nasbah telah mencapai 92, dan 432 orang menjadi debitur setia. Rentang pinjaman nasabah antara Rp. 500 ribu samapi Rp. 50 Juta. 

Sebagai Lembaga Keuangan Mikro selau berupaya untuk menjadi kehati-hatian dalam memeberikan pinjaman kepada nasabah dengan seleksi ketat, nasabah yang baik selalu dilayani dengan cepat, tetapi nasabah yang kurang baik ditolak. Hal Ini juga dilakukan agar tingkat kemacetan tidak lebih tinggi dari 10%, dan saapai saat itu tidak lebih dari 7,5%. Omzet bulanan mencapai Rp 10-15 juta rupiah. SHU pada th 2003 telah mencapai Rp. 134 juta.2

2. Swamitra Number Bekasi sebagai unit usaha otonom dari Koperasi Serba Usaha Naungan Bersama (Namber),. Koperasi ini didirikan oleh kelompok anak muda yang kreaktif pada pertengahan Mei 1996 dengan anggota 40 orang dan anggotanya pada Juni 2006 telah meningkat menjadi 1960 orang. Unit usaha ini terutama melayani anggotannya. Swamitra ini baru berdiri Mei 2005, Lembaga keuangan mikro ini berbasis manajemen Bank Bukopin. 

Total asset telah mencapai Rp. 841,3 juta dengan ratio pinjaman (LDR) 73,83% dan bad debt ratio 1,11%, serta kecukupan modal (CAR) 41,85%.dan SHU sebesar Rp. 198,7 juta pada th. 2005. LKM belum memanfaatkan dana Bank Bukopin, karena baru melayani nasabah 48 orang dan baru mencapai Rp. 355 juta, karena masih cukup dana dari USP dan pendapatan payment point sebagai jasa pelayanan pembayaran listrik, PAM, Telkom, Ratelindo, Pro XL dan jasa lainnya. 

Swamitra ini dalam operasional berlokasi di Jl. Raya Jati Asih, Bekasi, Jawa Barat yang didukung 8 orang profesionnal permanen dan puluhan tenaga lepas. Kepuasan pelanggan merupakan prioritas utama kegiatan USP dan payment point merupakan andalan dari USP ini.3 . .

Latihan Kelompok

  1. Peserta dibagi menjadi 5 kelompok sesuai dengan minat masing-masing peserta scara musyawarah dan masing-masing ditetapkan ketua dan sekretaris kelompok untuk melakukan diskusi kelompok, sebagai lanjutan dari latihan kelompok pertama.
  2. Masing-masing kelompok peserta memilih jenis usaha misalnya agribis (pertanian, peternakan, perikanan), industri rumah tangga, industri kerjinan rakyat, untuk mengembangkan kemitraan usaha.
  3. Berdasarkan jenis usaha buatlah alternatif model kemitraan apa yang paling sesuai dengan pilihan jenis usaha tersebut.
  4. Pilihlah model-model kemitraan mana yang paling sesuai untuk jenis usaha yang telah dipilih kelompok. 
  5. Setelah selesai menetapkan pilihan model bentuk kemitraan untuk jenis usaha terpilih, uraikan kewajiban apa saja dari kelompok mitra dan perusahaan mitra yang perlu disepakati oleh pelaku yang bermitra,
  6. pelajaran dari kasus 1 yang merupakan BUMN meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan, untuk menarik wisatawan kewajiban apa yang saja yang perlu dilakukan oleh kelmpok masyarakat sebagai kelompok mitra dan apa yang yang lebih rinci oleh pembina dalam hal ini Perum Perhutani sebagai persahaan mitra dalam hal ini BUM.
  7. Menarik pelajaran dari kasus 2 dimana kesuksesan telah diraih oleh pelaku usaha kecil kerajinan tas, apakah hal ini dapat direplikasikan pada pengusaha kecil di Kabupaten/Kota tempat kerja peserta. Untuk mengembangkan kemitraan usaha lembaga/dinas instansi mana untuk meningkatkan usaha kecil sejenis tersebut agar dapat menembus pasar eksport dan lembaga terkait lainnya untuk meningkat produk baik kualitas maupun volume produk

Rangkuman

Kemitraan berlangsung antar semua pelaku dalam kegiatan perekonomian. Selain aspek pelaku usaha, juga aspek objeknya, kemitraan bersifat terbuka dan menjangkau segala sektor kegiatan ekonomi. Untuk membangun kemitraan perlu memahami persyaratan: Perusahaan mitra, Kelompok mitra dan Perjanjian Kemitraan. Terdapat beberapa model Kemitraan yang dapat digunakan sebagai acuan melakukan kemitraan: (1) Model Inti Plasma, (2) Model kontrak Beli, (3) Model Sub Kontrak, (4) Model Dagang Umum, (5) Model Vendor, (6) Model Keagenan. Setiap model memiliki persyaratan yang merupakan kewajiban dari Kelompok Mitra dan Pengusaha Mitra.

Belajar dari kasus praktis dari perusahaan BUMN untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar perusahaan mitra yang dapat direplikasikan pada BUMN lain terhadap masyarakat sekitar lokasi usaha mitra dengan melakuakn modifikai baik sasaran maupun kegiatan masyarakat sekitar lokasi perusahaan mitra.

Kasus seorang warga yang berhasil mengajak masyarakat untuk melestarikan lingkungan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dengan budidaya tanaman hias. Kegiatan ini telah mendapat respon dari pihak pemerintah daerah dan lebaga perbankan untuk memberikan kredit.

Kasus praktis tentang kesuksesan usaha kecil untuk jenis usaha kerajinan yang dapat direplikasikan bagaimana menerapkan kunci sukses jenis usah lain yang dilakukan oleh usaha mikro dan kecil. 

Post a Comment

Berkomentar sesuai dengan judul blog ini yah, berbagi ilmu, berbagi kebaikan, kunjungi juga otoriv tempat jual aksesoris motor dan mobil lengkap

Lebih baru Lebih lama