Utilitarianisme: Menimbang Biaya dan Keuntungan Sosial

Pendekatan ini kadang disebut pendekatan konsekuensialis dan kadang disebut juga pendekatan utilitarian. Untuk melihat lebih dekat pada pendekatan ini, mari kita memelajari sebuah situasi dimana pendekatan ini menjadi pertimbangan dasar dalam membuat sebuah keputusan bisnis yang memiliki pengaruh dramastis pada kehidupan banyak orang.

Pada awal tahun 1960-an, posisi Ford di pasar mobil mengalami penurunan besar akibat persaingan dari produsen mobil luar negeri, khususnya dari perusahaan-perusahaan Jepang yang memproduksi mobil-mobil kecil dan hemat bahan bakar. Lee Iaccoca, direktur Ford waktu itu, berusaha mati-matian untuk memperoleh kembali pangsa pasar mobil. Strateginya difokuskan pada proses desain, pemanufakturan, dan penjualan yang cepat atas mobil baru,‟Pinto‟. Pinto adalah adalah sebuah mobil murah dengan berat kurang dari 2000 pon, dan harganya tidak lebih dari $2000, serta dipasarkan dalam waktu 2 tahun ( tidak 4 tahun seperti biasanya).


Namun manajer Ford memutuskan untuk tetap memproduksi Pinto karena beberapa alas an. Pertama, desain mobil ini memenuhi semua standar hukum dan peraturan pemerintah. Pada saat itu, peraturan pemerintah mensyaratkanagar tangki bahan bakar tetap dalam keadaan utuh meskipun mobil ditabrak dari belakang dengan kecepatan kurang dari 20 mil per jam. Kedua, manajer Ford merasa bahwa mobil ini memiliki tingkat keamanan yang sebanding dengan mobil-mobil yang diproduksi perusahaan lain. Ketiga, menurut studi biaya-keuntungan internal yang dilakukan oleh Ford, biaya modifikasi Pinto tidak bisa ditutupi oleh keuntungan yang diraih. 

Studi tersebut menunjukkan bahwa modifikasi tangki bahan bakar untuk 12,5 juta mobil yang akan diproduksi adalah $137 juta, dengan biaya $11 per mobil: Biaya: $ 11 x $ 12,5 juta mobil = $ 137 juta.

Namun demikian, data-data statistic menunjukkan bahwa modifikasi tersebut akan mampu mencegah 180 kematian akibat terbakar, 180 korban luka berat, dan 2100 kendaraan yang terbakar. Pada saat itu, pemerintah secara resmi memperkirakan nilai nyawa mausia sebesar $200.000, perusahaan asuransi memberikan nilai kerugian akibat luka bakar serius sebesar $67.000, dan nilai rata-rata untuk mobil kecil adalah $700. Jadi, menurut perhitungan, keuntungan dari modifikasi dalam kaitannya dengan pencegahan kerugian adalah sebesar $49,15 juta:

Keuntungan:
( 180 kematian x $200 ) + ( 180 korban luka x $67.000 ) + ( 2.100 kendaraan x $700 ) = $49,15 juta. Jadi, modifikasi yang akhirnya membebankan biaya pada konsumen sebesar $137 (karena biaya modifikasi ditambahkan pada harga mobil) hanya mampu mencegah kerugian konsumen senilai $49,15 juta. Tidak benar, menurut hasil studi tersebut, bila kita membuang uang masyarakat sebanyak $ 137 juta untuk memperoleh keuntungan senilai hanya $49,15 juta.

Utilitarianisme Tradisional

Secara singkat, prinsip utilitarian menyatakan bahwa: Suatu tindakan dianggap benar dari sudut pandang etis jika dan hanya jika jumlah total utilitas yang dihasilkan dari tindakan tersebut lebih besar dari jumlah utilitas total yang dihasilkan oleh tindakan lain yang dapat dilakukan. 

Masalah Pengukuran

Satu rangkaian masalah dalam kaitannya dengan utilitarianisme terfokus pada hambatan-hambatan yang dihadapi saat menilai atau mengukur utilitas. Salah satunya adalah bagaimana nilai utilitas dari berbagai tindakan yang berbeda pada orang-orang yang berbeda dapat diukur dan diperbandingkan seperti yang dinyatakan dalam utilitarianisme? Misalkan saya dan Anda sama-sama menikmati pekerjaan; Bagaimana kita bisa menentukan apakah utilitas yang Anda peroleh dari suatu pekerjaan lebih besar atau lebih kecil dibandingkan utilitas yang saya peroleh? Setiap orang mungkin merasa yakin bahwa dia bisa memperoleh keuntungan paling besar dari suatu pekerjaan, namun karena kita tidak dapat menjadi orang lain, maka penilaian ini tidak memiliki dasar objektif.

Tanggapan Utilitarian Terhadap Masalah Penilaian

Para pendukung utilitarianisme memberikan sejumlah tanggapan untuk menghadapi keberatan-keberatan yang muncul. Pertama, kaum utilitarian menyatakan bahwa, meskipun utilitarianisme idealnya masyarakat penilaian-penilaian yang akurat dan dapat dikuantifikasikan atas biaya dan keuntungan, namun persyaratan ini dapat diperlonggar jika penilaian seperti itu tidak dapat dilakukan. 

Masalah Hak dan Keadilan

Hambatan utama utilitarianisme, menurut beberapa kritikus adalah prinsip tersebut tidak mampu menghadapi dua jenis permasalahan moral: masalah yang berkaitan dengan hak dan yang berkaitan dengan keadilan. Ada beberapa contoh yang dapat dipakai untuk menggambarkan kritik-kritik yang diajukan pada pandangan utilitarian.

Pertama, misalkan saja paman Anda menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan menyakitkan  dan dia merasa sangat tidak bahagia namun juga tidak ingin mati.

Kedua, utilitarianisme juga bisa salah, menurut para kritikus, apabila diterapkan pada situasi-situasi yang berkaitan dengan keadilan sosial. Sebagai contoh, misalkan upah subsistensi memaksa sekelompokpekerja pendatang untuk tetap melaksanakan pekerjaan yang paling tidak diinginkan dalam bidang pertanian dalam sebuah perekonomian, namun menghasilkan tingkat kepuasan yang sangat tinggi bagi mayoritas masyarakat karena kelompak mayoritas tersebut menikmati barang-barang produksi hasil pertanian yang murah dn memungkinkan mereka untuk memenuhi keinginan-keinginan lain.

Tanggapan Utilitarian Terhadap Pertimbangan Hak dan Keadilan Untuk menangani keberatan dalam contoh-contoh yang diajukan oleh para kritikus utilitarianisme tradisioanl, kaum utilitarian mengajukan satu versi utilitarianisme alternative yang cukup penting dan berpengaruh, yang disebut rule- utilitarianism (peraturan utilitarianisme). Strategi dasar dari rule-utilitarian adalah membatasi analisis utilitarian hanya pada evaluasi atas peraturan-peraturan moral. Menurut rule-utilitarian, saat menentukan apakah suatu tindakan dianggap etis, kita tidak perlu mempertanyakan apakah tindakan tersebut akan memberikan nilai utilitas paling besar. Sebaliknya, kita perlu mempertanyakan apakah tindakan tersebut diwajibkan oleh peraturan moral yang harus dipatuhi oleh semua orang. Jika benar, maka kita perlu melakukannya.

Jadi, teori rule-utilitarian memiliki dua bagian yang dapat kita ringkas dalam dua prinsip berikut:
I. Suatu tindakan dianggap benar dari sudut pandang etis jika dan hanya jika tindakan tersebut dinyatakan dalam peraturan moral yang benar.
II. Sebuah peraturan moral dikatakan benar jika dan hanya jika jumlah utilitas total yang dihasilkannya; jika semua orang yang mengikuti peraturan tersebut lebih besar dari jumlah utilitas total yang diperoleh; jika semua orang mengikuti peraturan moral alternative lainnnya.

Post a Comment

Berkomentar sesuai dengan judul blog ini yah, berbagi ilmu, berbagi kebaikan, kunjungi juga otoriv tempat jual aksesoris motor dan mobil lengkap

Lebih baru Lebih lama